Minggu, 08 Mei 2016

Matahari Tak Terbit Pagi Ini
Cerpen Fakhrunnas MA Jabbar
Pernahkah kau merasakan sesuatu yang biasa hadir mengisi hari-harimu, tiba-tiba lenyap begitu saja. hari-harimu pasti berubah jadi pucat pasi tanpa gairah. Saat kau hendak rnengembalikan sesuatu yang hilang itu dengan sekuat daya. namun tak kunjung tergapai. Kau pasti jadi kecewa seraya menengadahkan tangan penuh harap lewat kalirnat do’a yang tak putus-putusnya.
Bukankah kau jadi kehilangan kehangatan karena tak ada helai-helai sinar ultraviolet yang membuat senyumnya begitu ranum selama ini. Matahari bagimu tentu tak sekadar benda langit yang memburaikan kemilau cahaya tetapi sadah menjadi sebuah peristiwa yang menyatu dengan ragamu. Bayangkanlah bila matahari tak terbit lagi. Tidak hanya kau tapi jutaan orang kebingungan dan menebar tanya sambil merangkak hati-hati mencari liang langit, tempat matahari menyembul eocara perkasa dan penuh cahaya.
Kaulah matahari itu. bidadariku. Berhari-hari kau merekat kasih hingga tak tak terkoyak oleh waktu, tiba-tiba kita harus berpencar di bawah langit menuju sudut-sudut yang kosong. Kekosongan itu kita bawa melewati jejalan kesedihan.Kita harus terpisah jauh menjalani kodrat diri yang termaktub di singgasana luhl mahfudz. Semula kita begitu dekat. Lantas terpisah jauh oleh lempengan waktu.
Kita mengisi halaman-halaman kosong kehidupan kita dengan denyut nadi. Sesudahnya, kita bertemu bagai angin mengecup pucuk-pucuk daun dan berlalu begitu mudah. Dan kita pun berternu lagi dengan perasaan yang asing hingaa kita begitu sulit memahami siapa diri kita sebenarnya.
Di ruang kosong yang semula dipennhi pernik cahaya matahari, kita bertatap muka penuh gairah. Di penjuru ruang kosong itu bergantungan bola-bolarindu penuh warna dan aroma. Bola-bola itu bengesekan satu dengan lain mengalirkan irama-irama lembut Beethoven atm Papavarotti. Irama itu menyayat-nyayat-hati kita hingga mengukit potongan sejarah baru. Bagaikan sepasang angsa putih yang menari-nari di bawah gemerlapan cahaya langit, sejarah itu terus ditulisi berkepanjangan. Lewat ratusan kitab, laksa aksara. Namun, setiap perjalanan pasti ada ujungnya Setiap pelayaran ada pelabuhan singgahnya. Setiap cuaca benderang niscaya dkingkahi temararn bahkan kegelapan.
Andai sejarati boleh terus diperpanjang membawa motos dan legendanya, maka dirimu boleh jadi termaktub pada pohon ranji sejarah itu. Boleh jadi, kau akan tampil sebagai permaisuri atau pun Tuanku Putri yang molek. Mungkin, berada di bawah bayang-bayang Engku Putri Hamidah, Puan Bulang Cahaya ataupun siapa saja yang pernah mengusung regalia kerajaan yang membesarkan marwah perempuan.
Aku tiba-tiba jadi kehitangan sesuatu yang begitu akrab di antara kutub-kutub kosong itu. Kusebut saja, kutub rindu. Aku tak mungkin menuangkan tumpukan warna di kanvas yang penuh garis dan kata ibarat sebab lukisan agung ini tak kunjung selesai. Masih diperlukan banyak sentuhan Kuas dan cairan cat warna-warni hingga lukisan ini mendekati sempurna. Kita telah menggoreskan kain kanvas kosong itu sejak mula hingga waktu jeda yang tanpa batas.
Masih ingatkah kau bagaimana langit-langit kamar itu penuh getar dan kabar. Tiap pintu dan tingkap dipenuhi ikrar kita. Dan bola lampu temaram memburaikan janji-janji. Sebuah percintaan agung sedang dipentaskan di bawah arahan sutradara semesta. Kau membilang percik air yang berjatuhan di danau kecil di sudut pekarangan jiwa dalan kecup dan harum mawar,
Bahkan tubuh kita terguyuri embun yang terbang menembus kisi-kisi tingkap hingga tubuh jadi dingin. Malam-malam penuh mimpi dan keceriaan bagaikan sepasang angsa yang mengibas-ngibaskan bulu-bulu beningnya. Kau redupkan cahaya lampu di tiap penjuru hingga sejarah dapat dituliskan secara khidmat dan penuh makna. Kau menatap langit-langit kamar sambil membisikkan untaian puisi yang kau tulis denga desah napasmu. Kita merecup semua getar irama percintaan itu tiada batas.
Malam itu siapapapun tak butuh matahari. Sebab, ada bulan yang bersaksi. Kita hanya butuh setitik cahaya guna penentu arah belaka. Selebihnya sunyi menyebat kita dan tiupan angin yang melompat lewat kisi-kisi jendela yang agak terdebah. Dengan apakah kulukiskan pertemuan kita,  Kekasih ? Chairil sempat bertanya seketika.
Ah, tak cukup kata member makna, katamu dan isyarat sepasang angsa yang saling menggosokkan paruh-paruhnya. Bagaikan peladang kitapun sudah pula bertanam dan menebar benih. Kelak, katamu aka nada buah yang bakal dipetik sebagai kebulatan hati yang begitu mudah terjadi tanpa paksa dan janji. Dan kitapun terus saja bertanam agar daun-daun yang bertumbuh kelak dapat menangkap fotosintesis matahari. Di tiap helai daun itu bermunculan nama kita sebagai sebuah keabadian. Anadai matahari tak terbit lagi saat pagi merona, kita masih menyimpan sedikit cahaya di helai-helai daun yang berguncang dihembus angin sepanjang hari.
Sungguh, matahari tak terbit pagi ini. Bagai aku kehilangan dirimu yang berhari-hari menangkap cahaya hingga memekarkan kelopak bunga dijiwa. Percintaan ini penuh wangi dan warna. Penuh hijau daun dan kupu-kupu yang menyemai spora di mahkota bunga.
Begitulah saat kau berada jauh kembali ke garis hidupmu, aku begitu terganggu sebab cahava tak ada. Memang tak pernah matahari tak terbit memeluk bumi. Tapi, bagi kami, kala barada jauh, keadaan begitu gelap dan sunyi tiba-tiba. Kita merasa begitu kehilangan. Kita merasa ada yang terenggut tanpa sengaja. Serasa ada yang tercerabut dari akar yang semula menghujam jauh di ranah.
Kita bagaikan orang tak punya pilihan saat berada dipcrsimpangan tak bertanda. Syukurlah, kita tak pernah kehilangan arah tempat bertuju di perjalanan berikutnya. Hidup ini penuh gurindam dan bidal Melayu yang memagari ruang dan langkah kita nenuju titik terjauh yang harus dilompati. Kata-kata yang berdesakan di bait puisi dan lirik lagu menebar wangi hari-hariku.
takkan kutemui wanita seperti dirimu
takkan kudapatkan rasa cinta ini
kubayangkan bila engkau datang
kupeluk bahagia kan daku
kuserahkan seluruh hidupku
menjadi penjaga hatiku
Suara Ari Lasso lewat Penjaga hati itu mengalir pelan-pelan dari tembok-tembok kegelapan yang mengepungku. Benar kata emak dulu. Kita akan tahu makna sesuatu ketika ia telah berlalu. Apalagi berada jauh yang tak tersentuh.
Matahari tak terbit pagi ni. Begitu lah kita merasakan saat diri kita berada di kutub yang berjauhan. Di perlukan garis waktu untuk mempertemukan kedua tebing kutub itu. atau, kita harus kuat merenangi laut salju yang kental atau menyelam di bawah bongkahan es yang dingin menyengat tubuh. Begitu diperlukan segala daya untuk menemukan sesuatu yang lenyap begitu cepat saat diri memerlukan setitik cahaya.
Apa perasaanmu kini? Kau telan kesendirian itu di kejauhan sambil berharap matahari akan bercahaya segera menerangi kisi-kisi hati yang tersaput luka rindu kita. Andai kita bisa menolak gumpal awan dan menyeruakkan matahari kembali, begitulah takdir yang hendak kita bentangkan di kitab sejarah sepanjang masa. Tapi, kita akan cepat lelah. Menyeruakkan awan untuk menyembulkan garang matahari bukanlah hal yang mudah. Kita butuh sejuta tangan dan cakar untuk menaklukkan segenap awan dan matahari itu.
Kau ingat kan, kisah Qays dan Laila atau Romeo dan Juliet yang memburaikan banyak kenangan bagi jutaan orang. Kau pun ada dalam bagian kisah yang tak pernah lekang di panas dan lapuk di hujan itu. Selalu ada manik-manik kasih mengalir di samudera kehidupan yang maha-luas ini. Meski kadangkala suaramu tersekat melempar tanya kala anugerah kasih ini terbit di ujung usia. Tak bolehknh kita mereguk kebahagiaan di sisa waktu yang masih tersedia meski semua jalan yang terbuka di depan bagai tak berujung jua. “Aku takut bila aku berubah, Tapi tak akan pernah, pangeranku, ucapmu pelan.
Garis panjang waktu itu mendedahkan kemungkinan-kemungkinan yang sulit diraba. Banyak ancaman yang siap mengepung kita hingga merobek tabir setia. Ya, kesetiaan tak kasat mata. Hanya ada di bilik hati. Ingin aku menjenguk bilik hatimu setiap saat, tapi tak bisa. Pintu hati itu tak setiap waktu bisa terbuka. Andai kau bangun esok pagi. nankan selalu matahari akan terbit sepérti janji yang diucapkannya pada semesta. Di helai cahaya matahari itu selalu ada kéhangatan yang meresap di keping-keping jiwamu (Sumber : Republika, 4 November 2007)

Prosa itu dikelompokkan ke dalam bentuk cerpen. Sebagaimana halnya bentuk prosa lainnya, cerpen dibentuk oleh unsur-unsur tertentu. Berikut analisis unsure-unsur itu untuk cerpen di atas.
a.       Tema atau pokok cerpen di atas adalah kerinduan seseorang pada yang dikasihinya. Mereka berpisah karena “nasib” yang tidak bisa mereka tolak.
b.       Alur cerpen itu sangat pendek, yakni bergerak seputar kondisi batin tokoh utama  begitu kehilangaa orang yang dikasihiñya. Meskipun demikian. alur dasar dan cerpen itu tetap ada, yakni sebagai berikut.
1)       Mula-mula diawali dengan cerita tentang rasa kehilangan. kecewa, dan kekosongan jiwa yang dialami tokoh aku setelah orang yang dikasihi itu tiada lagi dari sampingaya.
2)       Dilanjutkan dengan kisah lain mereka yang dipenuhi dengan mimpi dan keceriaan.
3)       Cerita kembali pada kondisi tokoh aku yang berada dalam kesendirian dan berharap ia bisa bersama kembali dengan orang yang selalu dirindukannya itu.
c.        Latar  cerita itu tidak secara tegas menyatakan di mana dan kapannya. Memang sulit untuk mendeskripsikan latar cerita itu secara jelas. Cerpen itu lebih banyak mengungkapkan isi hati tokoh yang tidak pasti di mana dan kapan kejadiannya. Namun, secara sepintas cerita itu menyebut-nyebut latar tempat, yakni kamar. Sementara itu, latar waktu, seperti yang diungkapkan dalam  judulnya, yakni pada pagi hari.
d.       Penokohannya hanya mengangkat dua pelaku, yakni aku dan karnu.
1)       Aku sebagai tokoh utama cerita ini berwatak romantis, penuh pengertian, dan penyabar. Hal ini tampak dari perkataannya yang berbunga-bunga dan polesan-polesan yang sifatnya melebih-lebihkan. Walaupun Ia harus berpisah dengan orang yang dikasihinya, yang itupun masih dalam serba kemungkinan.
2)       Kamu merupakan tokoh pendamping (figuran) yang karakter-karakternya diceritakan melalui tokoh aku. Melalui ceritanya itu dapat diketahui bahwa “kamu” adalah seorang yang bertawakal dan penuh kehangatan. Karena Itu, tokoh aku menyebutnya sebagai bidadari. Tokoh kamu juga berwatak setia dan memiliki keteguhan hati. Watak tersebut seperti yang tampak pada cuplikan berikut.
a)       “Aku takut bila aku berubah. Tapi tak akan pernah, pangeranku” ucapmu pelan.
b)       Kau telan kesendirian itu dikejauhan sambil berharap matahari akan bercahaya segera menerangi kisi-kisi hati yang tersaput luka rindu kita.
c)       Kau pun ada dalarn bagian kisah yang tak pernah lekang di panas dan lapuk di hujan itu. Selalu ada manik-manik kasih mengalir di samudera kehidupan yang maha-Inas ini.
e.        Sudut pandang bersifat mengakukan. Dengan demikian cerpen itu menggunakan sudut pandang orang pertama yang sekaligus berperan sebagai tokoh utama. Berikut contoh petikannya.
Aku tiba-tiba jadi kehilangan sesuatu yang begitu akrab di antara kutub- kutub kosong itu. Kusebut saja, kutub rindu. Aku tak mungkin menuangkan tumpukan warna di kanvas yang penuh garis dan kata ibarat sebab lukisan agung ini tak kunjung selesai. Masih diperlukan banyak sentuhan kuas dan cairan cat warna-warni hingga lukisan ini mendekati sempurna. Kita telah menggoreskan kain kanvas kosong itu sejak mula hingga waktu jeda yang tanpa batas.

f.        Amanat cerpen itu tentang betapa berartinya seorang yang dikasihi dalam sebuah kehidupan. Ketiadaannya bisa menyebabkan hidup menjadi sunyi, tidak indah, dan serasa tidak bermakna lagi Amanat tersebut tampak pada kutipan berikut.
Begitulah saat kau berada jauh kembali ke garis hidupmu, aku begitu ternganga sebab cahaya tak ada. Memang, tak pernah matahari tak terbit memeluk bumi. Tapi, bagi kita, kala berada jauh. keadaan begitu gelap dan sunyi tiba-tiba. Kita merasa begitu kehilangan. Kita merasa ada yang terenggut tanpa sengaja. Serasa ada yang tercerabut dari akar yang semula menghunjam jauh di tanah.


Desa Legetang

Diengsavana – Dataran Tinggi Dieng memang menyimpan segudang cerita yang mungkin belum diketahui masyarakat luas. Salah satu cerita itu berasal dari sebuah dukuh atau dusun yang bernama Legetang.
Pada saat itu, Dukuh Legetang yang terletak di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Banjarnegara, merupakan sebuah dukuh yang makmur. Berbagai kesuksesan di bidang pertanian menghiasi kehidupan dukuh itu.
Toyib (71) warga Desa Kepakisan tetangga Desa Pekasiran, mengatakan, ‘’dulu itu di sini dukuhnya memang makmur, subur, malah desanya nggak makmur tapi salah satu dukuhnya malah makmur.’’
Namun, pada 17 April 1955, situasi berubah drastis setelah guyuran hujan lebat yang terjadi selama berhari-hari. Sekitar pukul 23.00 WIB, muncul suara ‘buumm’ yang terdengar hingga ke desa-desa tetangga, tetapi tidak diketahui dari mana asalnya.
‘’Suara ‘guntur ’-nya (sebutan longsor di daerah setempat) itu sampai terdengar ke rumah saya. Padahal, rumah saya Desa Kepakisan,’’ kisah Toyib yang saat peristiwa itu berusia 11 tahun.
Lanjut Toyib, akan tetapi karena gelapnya malam dan hawa dingin menusuk tulang, membuat warga yang mendengar suara mengejutkan itu tidak berani keluar rumah untuk memeriksanya.
Baru esok paginya diketahui, ternyata suara itu berasal dari longsoran lereng sisi tenggara Gunung Pengamun-amun yang tepat menimpa Dukuh Legetang. Dari kejauhan terlihat puncak Gunung Pengamun-amun sudah ‘rompal’ (Jw. Terbelah).
Bukan saja tertimpa tapi juga berubah menjadi sebuah bukit yang mengubur seluruh dukuh beserta warganya. Dukuh Legetang yang tadinya berupa lembah, kini berubah menjadi gundukan tanah menyerupai bukit.
Menyadari peristiwa itu, sontak masyarakat di sekitar Dukuh Legetang terkejut. Kemudian banyak yang berteriak ‘Legetang guntur !’, situasi saat itu menjadi ramai dan membuat  masyarakat berbondong-bondong untuk melihat lokasi kejadian.
Sudah Diperingati
Menurut Toyib, sebenarnya tanda-tanda tanah longsor sudah mulai terlihat sejak 70 hari sebelum kejadian. Sebelum bencana itu terjadi, sudah terlihat keretakan di lereng Gunung Pengamun-amun.
Namun, peringatan dini yang diberikan kepada warga Dukuh Legetang tidak diindahkan. “Mereka suruh mengungsi tapi tidak mau, karena diperkirakan cuma longsor kecil. Tapi karena tinggi dan berat tanah yang longsor, langsung menimpa semua. Anehnya yang longsor cuma atasnya, bawahnya ‘nggak’ ikut longsor,” ungkap Toyib.
Setelah peristiwa itu, banyak masyarakat yang menguhubungkannya dengan sikap warga Dukuh Legetang yang jauh dari kehidupan beragama. Toyib menuturkan, memang dulu pengetahuan agama di Dukuh Legetang masih sangat kurang.
‘’Walaupun dusun yang lain juga hampir sama, tapi Dukuh Legetang sudah terlalu parah, terutama maksiat-maksiat masalah seks bebas,’’ kata Toyib.
Dari 351 korban jiwa, terdapat 19 orang yang berasal dari luar Dukuh Legetang. Sementara itu, masih ada dua orang warga asli Legetang yang selamat dari bencana tersebut.
‘’Yang hidup cuma disisakan dua sama Allah, itu  perempuan semua. Mungkin disisakan dua biar untuk sejarah keadaan desa sini, tapi sekarang sudah meninggal,’’ imbuhnya.
Fadullah, Kepala Desa Pekasiran mengisahkan, beberapa hari setelah kejadian itu, pemerintah setempat mendirikan sebuah tugu peringatan yang digunakan sebagai bukti besarnya bencana pada tahun 1955 tersebut.
Kata dia, di tugu peringatan itu sebenarnya ada tulisan berapa jumlah korban dan tanggal terjadinya peristiwa. Namun, sudah sekitar 5 tahun lalu tulisan yang terbuat dari lempeng besi itu hilang. ‘’Itu nggak tau dicuri atau memang copot sendiri,’’  kata Fadullah.



Sejarah

Menurut sejarah Kerak Telor sudah ada pada zaman Belanda menjajah Indonesia pada waktu dulu.  Dimana semua berawal dari coba-coba pada puluhan tahun silam, ketika Batavia atau Jakarta masih dipenuhi oleh pohon kelapa. Sekawanan Betawi Menteng iseng mencampurkan antara ketan, kelapa parut dan bumbu dapur lainnya. Iseng-iseng banyak tetangga yang suka. Pada 1970-an mereka pun mulai mencoba peruntungan dengan berjualan resep uniknya tersebut di daerah Monas. Ternyata laku keras bahkan seolah sampai menjadi ciri khas Betawi. Kerak telor sempat menjadi makanan elit khas Betawi yang terkenal kelezatan rasanya.
Kerak telor merupakan warisan masa lalu dimana saat itu kota yang bernama Jakarta masih banyak ditumbuhi pohon kelapa. Karena dahulu hasil kelapa sangat melimpah yang membuat Jakarta masa lalu bernama sunda kelapa. Buah kelapa yang pada saat itu sangat berlimpah sangat dimanfaatkan oleh penduduk Jakarta untuk membuat aneka masakan seperti Nasi Uduk, Soto Betawi, Kerak Telor dan makanan khas Jakarta lainnya. Tidak heran jika kuliner khas Jakarta begitu banyak mengandung santan.

Resep pembuatan kerak telor

Bahan Resep Kerak Telor
  1. 1 gelas beras ketan putih, cuci bersih dan rendam dalam air selama minimal 3 jam. Lebih bagus direndam semalaman.
  2. 4 btr telur itik
  3. 1/2 btir kelapa, parut
  4. 1 bks bawang goreng kering siap pakai
  5. 6 sdm ebi, sangrai dan haluskan (diblender)
  6. 1 sdt garam
  7. 2 sdt gula pasir
  8. minyak untuk menumis
Bumbu Halus
  1. 5 bh cabe merah keriting
  2. 3 siung bawang merah
  3. 1 siung bawang putih
  4. 1/2 sdt lada
  5. 2 btr kencur
  6. 2 cm jahe
Cara Membuat Kerak Telor Sederhana Khas Betawi
  1. Sebagai langkah pertama, kita akan membuat serundeng sebagai bahan campuran dan bahan taburan kerak telor dengan cara disangrai. Tumis bumbu halus hingga harum, masukkan kelapa parut, garam, gula pasir dan 2 sendok makan ebi halus. Masak dengan api sedang sambil terus diaduk hingga kelapa kering dan berwarna kuning kecoklatan serta megeluarkan aroma harum khas serundeng. Angkat dan sisihkan.
  2. Panaskan wajan, sebaiknya menggunakan wajan kecil yang memiliki bentuk cekung.
  3. Tuangkan kedalam wajan, satu sendok sayur beras ketan yang telah direndam beserta satu sendok sayur air rendamannya. Tutup wajan dan masak beberapa saat hingga air menyusut dan agak mengering.
  4. Masukkan dua sendok makan serundeng, 1 sendok makan ebi halus, 1 sendok makan bawang goreng dan 1 butir telur itik. Aduk rata dan lebarkan hingga ke pinggir penggorengan serta membentuk dadar tipis.
  5. Masak hingga mengering dan mengeluarkan aroma harum khas telur dadar.
  6. Balikkan wajan sehingga posisinya tertelungkup dan api membakar permukaan kerak telor. Biarkan beberapa saat hingga kerak telor berubah warna menjadi kecoklatan namun hati-hati jangan sampai gosong.
  7. Untuk mengangkatnya, gunakan kape/kapi atau spatula tipis sehingga kerak telor dapat terlepas dari wajan.
  8. Beri taburan serundeng dan bawang goreng. Sajikan selagi hangat.

 Kesimpulan
Setelah membuat artikel ini, kami mendapat banyak sekali pengetahuan tentang budaya betawi lewat makanan kerak telor. Kerak telor merupakan makanan khas betawi yang mungkin sudah jarang saat ini. Mengapa demikian? Mungkin karena masyarakat betawi yang dulu tinggal di Jakarta sudah berpindah tempat ke daerah lain dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Walaupun demikian kerak masih dapat di jumpai di kawasan Jakarta seperti Monas,Setu Babakan, Pekan Raya Jakarta dan event-event lainnya. Kami sebagai penerus tidak akan mau bila makanan kerak telor itu punah atau pun asing dibilangan Jakarta.